Hardiknas 2026: Bambang Iman Santoso Dorong Pendidikan Bermutu untuk Semua

oleh -55 Dilihat
banner 468x60

METRO, SL — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kota Metro berlangsung meriah dan sarat makna. Bertempat di area terbuka yang dipadati ribuan pendidik, Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, meluncurkan festival membatik shibori massal sekaligus mengenalkan tradisi makan bersama khas daerah, “Nyeruit Jejamo” .

Kegiatan yang dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Metro, Ria Hartini, serta seluruh jajaran instansi vertikal ini menjadi simbol gerakan kolektif mewujudkan “Pendidikan Bermutu untuk Semua”.

banner 336x280

Momen paling spektakuler adalah ketika 2.168 guru se-Kota Metro serentak melakukan kegiatan membatik shibori. Ribuan tangan kreatif ini menorehkan warna di atas kain, menjadikannya sebagai bentuk dedikasi dan pengabdian tenaga pendidik.

Wali Kota Bambang Iman Santoso menekankan bahwa peringatan Hardiknas tidak boleh menjadi seremonial belaka. Ia mengajak seluruh guru untuk naik level: dari sekadar tenaga pengajar menjadi sosok penginspirasi.

“Festival membatik ini bukan sekadar membuat kain jadi indah. Ini simbol bahwa guru adalah ‘pewarna’ peradaban. Mereka membentuk karakter, menorehkan ilmu, dan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudaya,” Kata Bambang. Sabtu 2/5/2026.

Ia kemudian mengkaitkan dengan filosofi dalam Al-Qur’an, surat Al-Alaq ayat 1: Iqro bismirobbikalladzi kholaq. “Saya ingat ayat itu. Ini perpaduan antara membaca dan meyakini keyakinan kepada Sang Maha Kuasa. Ini sesuai dengan visi kita: Metro sebagai Kota Pendidikan, Kota Cerdas,” ujarnya.

Walikota memberikan perspektif menarik tentang makna “membaca”. Menurutnya, membaca tidak hanya terbatas pada teks buku, tetapi juga membaca alam semesta.

“Membaca bukan hanya membaca buku atau tulisan, tetapi juga membaca alam semesta. Itu membuat diri kita benar-benar bertambah pengetahuan,” paparnya.

Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa moral hanya melahirkan keangkuhan, sementara kebaikan tanpa pengetahuan hanya melahirkan kebodohan. Maka, ia merumuskan cita-cita pendidikan: melahirkan generasi yang “pinter sing bener, bener sing pinter” (pintar yang benar, benar yang pintar).

“Yang kita harapkan adalah anak didik yang benar dan pintar. Bukan hanya benar tetapi tidak pintar, atau pintar tetapi tidak benar. Yang komplit: benar dan pintar, pintar dan benar,” tandasnya.

Uniknya, peringatan Hardiknas kali juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan tradisi “Nyeruit Jejamo” kepada khalayak luas. Tradisi makan bersama ini merupakan upaya membangun kebersamaan dan gotong royong, karakter yang ingin ditanamkan kepada peserta didik.

Peringatan Hardiknas di Metro menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dirayakan dalam warna, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.